Sabtu, 05 Februari 2011

32. Bioekologi, Serangan, dan Pengendalian Hama Pemakan Daun Kedelai


Arifin, M. 1992. Bioekologi, serangan, dan pengendalian hama pemakan daun kedelai, pp. 81-116. Dalam Marwoto et al. (Eds.). Risalah Lokakarya Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Kedelai. Balittan Malang, 8-10 Agustus 1991.

Muhammad Arifin
Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor


PENDAHULUAN

Hama merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan hasil panen kedelai. Ada 111 jenis hama kedelai yang telah diketahui di lndonesia, beberapa di antaranya adalah hama pemakan daun (19). Hama pemakan daun yang berstatus penting atau agak penting ada empat jenis yakni kumbang daun (Phaedonia inclusa Stal.), penggulung daun (Lamprosema indicata F.), ulat iengkal (Chrysodeixis chalcites Curt,), dan ulat grayak Spodoptera litura F.). Kerusakan daun akibat serangan hama pemakan daun mengganggu proses fotosintesis yang akhirnya mengakibatkan kehilangan hasil panen.
Sampai saat ini, pengendalian hama pemakan daun masih mengandalkan insektisida yang diaplikasikan secara terjadual dengan frekuensi 2 minggu sekali atau lebih tanpa memperhatikan keadaan populasi hama di lapangan. Penggunaan insektisida menjadi berlebihan sehingga seringkali menimbulkan pengaruh samping yang merugikan secara ekonomis dan ekologis.
Mengingat kelemahan aplikasi insektisida terjadual tersebut, maka untuk mengendalikan hama kedelai harus digunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam konsep tersebut, pengendalian hama dengan insektisida merupakan salah satu taktik yang digunakan bilamana perlu serta diintegrasikan dengan taktik pengendalian lain. Tujuan pengendalian adalah untuk memaksimumkan keuntungan pendapatan, targetnya adalah beberapa jenis hama, dasar yang digunakan adalah ambang kendali hama, dan caranya adalah dengan menurunkan kepadatan populasi hama melalui berbagai taktik pengendalian (16).
Dalam konsep PHT, ada empat elemen yang mendasari komponen pengendalian hama, yakni bioekologi, pengendalian alamiah, ambang kendali, dan teknik penarikan contoh populasi hama (35). Di dalam makalah ini, keempat elemen tersebut akan dibahas sebagai dasar untuk menentukan komponen pengendalian hama pemakan daun kedelai. Sumber data yang digunakan dalam penyusunan makalah ini diperoleh dari hasil penelitian dan penelaahan pustaka. Meskipun informasi yang dibutuhkan belum lengkap dan akurat, namun penulis mencoba merakit paket teknologi pengendalian hama pemakan daun kedelai.

BIOEKOLOGI DAN SERANGAN HAMA PEMAKAN DAUN KEDELAI

1. Kumbang daun kedelai

a. Peri kehidupan
Kumbang daun kedelai, Phaedonia inclusa Stal. (Coleoptera, Chrysomelidae) berbentuk hampir speris, kepala dan pronotum berwarna coklat-kemerahan, dan elytra berwarna hitam-kebiruan dengan bagian tepi sempit berwarna coklat kekuningan. Elytra panjangnya 4 - 5 mm. Pakan umumnya berupa daun yang telah membentang sempurna. Perkembangan serangga ini berlangsung selama 3 - 4 minggu. Stadium kumbang berlangsung selama 4 bulan. Pada keadaan tanaman tidak tumbuh, kumbang mampu bertahan hidup hingga 5 buian. Kumbang ini bergerak lambat dan jarang terbang. Itulah sebabnya, kumbang ini menyebar secara pasif setelah panenan melalui transportasi daun (15).
Produksi telur berkisar antara 200 - 250 butir. Telur biasanya diletakkan secara berkelompok sebanyak 2 - 18 butir di permukaan bawah helaian daun (30). Telur berwarna kuning muda, bentuknya agak melengkung dengan ujung bulat, panjangnya 1 1/3 mm dan lebarnya 1/3 mm. Stadium telur berlangsung selama 4 hari (15).
Larva pada mulanya berwarna abu-abu gelap kemudian berubah menjadi agak muda. Larva dilengkapi dengan tubercula dan setae yang hitam, bentuknya agak melengkung dengan abdomen tebal, panjangnya mencapai 5 mm. Selama beberapa hari pertama, larva tinggal pada daun, tempat telur diletakkan, kemudian segera merayap ke puncak batang, bunga, dan polong. Larva tua sering memakan tangkai daun. Stadium larva terdiri atas 5 instar, berlangsung selama 8 hari (15).
Pupa terbentuk di dalam rongga tanah dekat permukaan tanah. Pupa menjadi kumbang setelah berumur seminggu (15).
Kelembaban merupakan faktor penentu dalam perkembangan serangga ini. Lembab nisbi optimum yang dibutuhkan oleh kumbang untuk meletakkan telur berkisar antara 60-80%. Hal ini mungkin merupakan salah satu faktor mengapa kumbang daun kedelai menjadi hama penting di daerah beriklim kering (23).

b. Perilaku merusak
Kumbang hadir di pertanaman sejak kecambah muncul ke permukaan tanah hingga tanaman masih memiliki daun atau polong muda. Kumbang dan larva merusak pucuk, daun muda, tangkai daun muda, bunga dan polong muda. Tanaman kedelai yang diserang larva maupun kumbang mengalami perompesan sehingga mengakibatkan penurunan hasil panen. Serangan hama pada tanaman muda mengakibatkan tanaman mati, serangan pada tanaman stadium pembungaan mengakibatkan jumlah bunga dan polong berkurang, dan serangan pada stadia perkembangan polong dan biii mengakibatkan jumlah polong dan kualitas biji berkurang (30).

c.  Daerah sebaran dan fluktuasi serangan
Daerah sebaran kumbang daun meluas di Sumatera bagian Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara. Rerata luas serangan kumbang daun selama kurun waktu 10 tahun (1978 - 1987) 3.309 ha/tahun dengan daerah serangan utamanya adalah Lampung, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara. Ketiga propinsi tersebut merupakan daerah penghasil utama kedelai sehingga memungkinkan teriadinya serangan yang lebih luas daripada propinsi lain (10).
Hasil survei pada tahun 1987 di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Utara menunjukkan bahwa populasi kumbang daun relatif rendah. Hal ini diduga karena penggunaan insektisida secara intensif dan perubahan pola tanam di daerah tersebut. Sifat hama yang rentan terhadap insekisida dan tidak tersedianya tanaman pakan, akan menghambat perkembangbiakan hama sehingga memberikan peluang terjadinya perubahan status hama, dari penting menjadi kurang penting (29).

2. Ulat penggulung daun

a. Perikehidupan

Ulat penggulung daun, Lamprosema (Omyodes) indicata F. (Lepidoptera, Pyralidae) memiliki inang tanaman kedelai dan berbagai jenis kacang-kacangan lainnya. Ciri khas ulat ini adalah terdapatnya dua bercak hitam pada kedua sisi prothorax.
Sesuai dengan namanya, ulat berdiam didalam gulungan daun. Gulungan daun mulai dibentuk oleh ulat muda pada bagian pucuk, tempat telur diletakkan. Setelah tumbuh menjadi lebih besar, ulat berpindah ke daun yang lebih tua. Gulungan daun dibentuk dengan cara merekatkan daun satu dengan lainnya dari sisi dalam dengan semacam zat perekat yang dikeluarkan oleh ulat yang bersangkutan. Bila gulungan daun dibuka, akan dijumpai ulat berwarna hijau transparan yang bergerak cepat. Selama berdiam di dalam gulungan daun, ulat memakan daun sehingga tampak hanya tulang daunnya saja yang tersisa. Kepompong dibentuk di dalam gulungan daun tersebut. Kupu-kupu yang terbentuk berukuran kecil dan berwarna coklat kekuningan (15).

b. Daerah sebaran dan fluktuasi populasl
Daerah sebaran hama ini meluas hampir diseluruh lndonesia (15). Hama ini dijumpai di 13 propinsi dengan rerata luas serangan 3563 ha/tahun. Daerah serangan utamanya adalah Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Utara (10).
Hasil pengamatan dinamika populasi ulat penggulung daun pada tahun 1987 di Yogyakarta menunjukkan bahwa serangga ini dapat dijumpai pada penanaman kedelai sejak berumur 24 hari setelah tanam (HST). Puncak populasinya terjadi pada tanaman berumur 37 dan 58 HST (Gambar 1), Perbedaan puncak populasi selama 21 hari menunjukkan bahwa dalam satu musim tanam terjadi dua generasi (12),


3. Ulat jengkal

a. Peri kehidupan

Ulat jengkal, Chrysodeixis chalcites Esp. (Lepidoptera, Noctuidae) berwarna hijau dan bergerak seperti menjengkal. Ulat tua memiliki ciri khas, yakni adanya tungkai palsu sebanyak tiga pasang dan garis lateral berwarna pucat sebanyak tiga pasang yang membujur dari mesonotum hingga ujung abdomen. Tubuh ulat menyempit pada bagian apikal dengan kepala kecil. Tubuh ulat ini apabiia direntangkan, panjangnya 3 cm. Stadium ulat terdiri atas lima instar, umur ulat berlangsung selama 14-19 hari dengan rerata 16,2 hari (14).
Kepompong berwarna hijau muda yang berangsur-angsur menjadi putih-kecoklatan. Kepompong dibentuk di daun, ditutupi oleh rumah kepompong (kokon). Stadium kepompong berlangsung selama 6-11 hari dengan rerata 6,8 hari (14).
Stadium ngengat berlangsung selama 5 – 12 hari dengan rerata 8,5. Ngengat meletakkan telur pada umur 4 – 12 hari. Produksi telur mencapai 1250 butir per ekor ngengat betina. Telur diletakkan secara individual di permukaan bawah helaian daun. St pada umur 4 – 12 hari. Stadium telur berlangsung selama 3 - 4 hari dengan rerata 3,2 hari (14). Daur hidup ulat jengkal dari tetur hingga ngengat bertelur berlangsung selama 30 hari.

b. Perilaku merusak, sebaran, dan fluktuasi populasi

Ulat jengkal menyerang tanaman muda dan tua dengan gejala serangan berupa perompesan, baik sebagian dengan masih tersisanya tulang daun, maupun total. Di samping memakan daun, ulat juga sering memakan polong muda.
Ulat jengkal memiliki inang berupa tanaman kedelai dan beberapa tanaman pangan lainnya, sesayuran, dan gulma selain rerumputan. Karena sifatnya yang polifag tersebut, maka daerah sebarannya meluas di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi (15).
Hama ini dijumpai di 14 propinsi dengan rerata luas serangan 5.005 ha/tahun. Daerah serangan utamanya adalah Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara (10).
Hasil pengamatan dinamika populasi ulat jengkal pada tahun 1987 di Yogyakarta menunjukkan bahwa serangga ini mulai hadir pada pertanaman berumur 44 HST, dan puncak populasinya terjadi pada 51 HST (Gambar 1). Kenyataan ini menunjukkan bahwa dalam satu musim hanya dijumpai satu generasi (12).

4. Ulat grayak

a. Peri kehidupan

Ulat grayak, Spodoptera litura F. (Lepidoptera, Noctuidae) memiliki ciri khas, yakni terdapatnya dua buah bintik hitam berbentuk seperti bulan sabit pada tiap ruas abdomen, terutama ruas ke empat dan ke sepuluh yang dibatasi oleh garis-garis lateral dan dorsal berwarna kuning yang membujur sepanjang badan (15).
Setelah telur menetas, ulat tinggal untuk sementara waktu di tempat telur diletakkan, Beberapa hari kemudian, ulat tersebut berpencaran, Ulat tua bersembunyi di dalam tanah pada siang hari dan giat menyerang tanaman pada malam hari. Stadium ulat terdiri atas enam instar dan berlangsung selama 13 - 17 hari dengan rerata 14 hari (18).
Kepompong terbentuk di dalam rongga-rongga dalam tanah di dekat permukaan tanah. Stadium kepompong berlangsung selama 7 - 10 hari dengan rerata 8,5 hari. Stadium ngengat berlangsung selama 1 - 13 hari dengan rerata 9,3 hari.
Ngengat meletakkan telur pada umur 2 - 6 hari. Produksi telur dapat mencapai 3000 butir per induk betina, tersusun atas 11 kelompok dengan rerata 350 butir per kelompok. Telur diletakkan berkelompok dan ditutupi oleh bulu-bulu halus berwarna coklat kemerahan. Stadium telur berlangsung selama 3 - 5 hari dengan rerata 3 hari (15, 18). Daur hidup ulat grayak dari telur hingga ngengat bertelur berlangsung selama 28 hari.
Penelitian tentang laju pertumbuhan intrinsik ulat grayak telah dilakukan pada tahun 1989 di Mojosari, Jawa Timur dengan cara mengukur peluang hidup dan kepridian ulat grayak pada tanaman kedelai (4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peluang hidup dari telur hingga ulat instar I, awal kepompong, dan awal ngengat, masing-masing sebesar 94%, 15%, dan 11%. Lama stadia telur, ulat, kepompong, dan ngengat, masing-masing sekitar 2, 16, 9, dan 9 hari. Jumlah keturunan betina per ekor ngengat betina sebanyak 707 ekor, terbanyak terjadi pada peneluran hari kedua, yakni 233 ekor. Masa prapeneluran, peneluran, dan pasca peneluran, masing-masing berlangsung selama 2, 6, dan 1 hari (Gambar 2).

Berdasarkan data peluang hidup dan kepridian ulat grayak tersebut di atas, maka beberapa parameter pertumbuhan ulat grayak dapat ditentukan. Laju pertumbuhan intrinsik (r) sebanyak 0,134 ekor/hari. Nilai r ini sebagian besar ditentukan oleh banyaknya telur yang dihasilkan selama 4 hari pertama kehidupan ngengat. Laiu reproduksi bersih (Ro) sebanyak 68,8 kali/generasi, masa generasi (T) berlangsung selama 31,8 hari, laju pertumbuhan terbatas (A) sebesar 1,14 kali/hari, lalu kelahiran dan laju kematian, masing-masing sebesar 0,283 dan 0,149. Proporsi stadium pradewasa (telur, ulat, dan kepompong) sebesar 99,3%, sedangkan stadium dewasa (ngengat) sebesar 0,7%. Berdasarkan nilai r= 0,134, maka model laju pertumbuhan populasi dalam lingkungan tak terbatas dinyatakan dengan regresi eksponensial: Nt = N0 e0,134 t. Jika ada sepasang ngengat pada waktu t, sebulan kemudian populasi akan meningkat menjadi 56 pasang.

b. Perilaku merusak

Ulat grayak muda menyerang daun sehingga bagian daun yang tertinggal hanya epidermis atas dan tulang-tulangnya saja. Ulat tua juga merusak tulang-tulang daun sehingga tampak lubang-lubang bekas gigitan pada daun. Di samping memakan daun, ulat juga memakan polong muda.
Ulat grayak memiliki kemampuan makan besar, Selama periode ulat instar VI yang berlangsung selama 2,5 hari, ulat dengan kemampuan makan sebesar 184 cm2/ekor mampu menghabiskan satu tanaman stadium V2 yang berumur 15 HST (3).

c.  Sebaran dan fluktuasi populasi

Ulat grayak merupakan salah satu hama penting pada tanaman kedelai. Di samping kedelai, serangga ini juga menjelang beberapa tanaman pangan lainnya, sesayuran, tanaman industri, dan gulma. Daerah sebaran populasi ulat grayak meluas di seluruh lndonesia, Di pulau Jawa, sebarannya beragam dari waktu ke waktu, tetapi selalu ditemukan pada sepanjang tahun. Keragaman ini disebabkan oleh kemampuan migrasinya yang tinggi dan sifatnya yang polifag sehingga mampu bertahan hidup pada berbagai tanaman (28).
Hama ini dijumpai di 22 propinsi dengan rerata luas serangan 11.163 ha/tahun. Daerah serangan utamanya adalah Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Utara (10).
Hasil pengamatan mengenai perkembangan populasi ngengat jantan pada tahun 1983 di beberapa lokasi di Jawa Timur menunjukkan bahwa puncak penerbangan populasi ngengat terjadi pada akhir Juli, awal Oktober, dan awal November (Gambar 3) (6). Untuk menghindari risiko kehilangan hasil panen, pemantauan populasi ulat grayak pada bulan-bulan tersebut harus diintensifkan.

Hasil pengamatan dinamika populasi ngengat jantan pada tahun 1987 di Yogyakarta menunjukkan bahwa serangga ini mulai dijumpai pada tanaman berumur 24 HST. Populasi ulat kemudian tumbuh dan mencapai puncaknya pada 38 HST. Populasi ulat meningkat kembali untuk kedua kalinya pada 73 HST, saat tanaman menjelang akhir pengisian polong (Gambar 1). Perbedaan puncak popuiasi selama 34 hari ini menunjukkan bahwa dalam satu musim tanam, terjadi dua generasi (12). Berdasarkan hasil pengamatan di atas, maka pemantauan populasi ulat grayak pada 38 HST atau selama stadium pembungaan harus diintensifkan.

PENGENDALIAN ALAMIAH HAMA PEMAKAN DAUN KEDELAI

1. Faktor pengendali populasi

Dalam suatu ekosistem pertanaman kedelai, hama sebagai salah satu komponen biotik berinteraksi intra dan interspesifik, juga dengan komponen fisik. Apabila komponen-komponen tersebut tidak mengalami perubahan permanen, maka populasi hama cenderung berfluktuasi dalam keadaan seimbang.
Fluktuasi populasi hama dalam keadaan seimbang diatur oleh musuh alami yang berfungsi menurunkan populasi hama ketika kepadatan populasi hama tinggi, dan kurang menurunkan populasi hama ketika kepadatan populasi hama rendah.
Peranan musuh alami dapat ditingkatkan dengan memanipulasi lingkungan sedemikian rupa sehingga menguntungkan musuh alami untuk bertahan hidup. Usaha tersebut dilakukan, antara lain dengan mengatur penggunaan insektisida sebijaksana mungkin.
Usaha manusia meningkatkan produksi, misalnya dengan membentuk sistem pertanaman monokultur secara terus-menerus dapat mengurangi keragaman jenis organisme sehingga menyebabkan keseimbangan alami terganggu. Akibatnya, faktor pengendali populasi hama menjadi berkurang sehingga memberikan lingkungan yang menguntungkan bagi peningkatan populasi hama. Oleh karena itu, apabila musuh alami tidak dapat bekerja menurunkan populasi hama ke keadaan seimbang, maka faktor-faktor seperti ketahanan varietas tanaman, teknik budidaya, iklim, dan insektisida dapat bertindak sebagai pengendali populasi hama.

2. Peranan musuh alami

Penelitian tentang peranan musuh alami ulat grayak pada berbagai kondisi pertanaman kedelai telah dilakukan pada MK 1989 di Mojosari, Jawa Timur (5). Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan bertahan hidup ulat grayak pada pertanaman yang diaplikasi dengan insektisida lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang tidak diaplikasi insektisida (Gambar 4). Penggunaan insektisida secara intensif pada pertanaman yang diaplikasi insektisida mengurangi banyaknya jenis dan populasi musuh alami (Tabel 1) sehingga musuh alami kurang mampu berperan sebagai pengendali populasi ulat grayak. Akibatnya, peluang populasi ulat untuk meningkat menjadi lebih besar.
Tindakan pengendalian dengan insekisida terbukti menurunkan banyaknya jenis dan jumlah musuh alami. Oleh karena itu, insektisida seharusnya digunakan bilamana perlu dengan jenis dan dosis insektisida, serta waktu dan cara yang cocok. Dengan demikian, pelestarian musuh alami sebagai agen pengendali alamiah ulat grayak dapat dijamin.




 
AMBANG KENDALI HAMA PEMAKAN DAUN KEDELAI

Di dalam konsep PHT, tindakan pengendalian hama dengan insetisida dilakukan dengan cara menurunkan kemudian mempertahankan populasi hama di bawah ambang kendali (AK). Keterangan tentang AK dapat diperoleh berdasarkan (1) data empiris setempat mengenai kepadatan populasi atau tingkat serangan hama yang masih dapat ditoleransikan, (2) ketentuan yang telah digunakan di tempat atau negara lain untuk jenis hama dan tanaman yang sama, serta (3) hasil penelitian yang sistematis (34). Mengingat dasar perolehan AK tersebut, maka nilai AK suatu hama sifatnya beragam.
Nilai AK bersifat dinamis sehingga selalu berubah menurut faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi AK adalah: (a) ekonomi, yakni biaya pengendalian dan harga komoditas tanaman, (b) biologi, yakni pertumbuhan tanaman dan populasi hama, serta (c) ekologi yang mempengaruhi tanaman dan populasi hama (1).
Untuk menentukan nilai AK, diperlukan data mengenai (a) hubungan antara kepadatan populasi hama dan kerusakan tanaman, dan (b) macam kerusakan tanaman akibat hama dan pengaruh kerusakan tersebut terhadap hasil panen. Nilai keduanya tergantung pada stadium pertumbuhan tanaman, stadium pertumbuhan dan kepadatan populasi hama, serta iklim (1).

1. Kumbang daun

Penelitian tentang hubungan antara populasi kumbang daun dan hasil panen pada tahun 1980 di Bogor menghasilkan model regresi: Y = 59,192 - 1,499 X; r = 0,943*. Berdasarkan model regresi tersebut, serangan kumbang sebanyak 2 ekor/8 tanaman mengakibatkan kehilangan hasil panen 175 kg/ha atau setara dengan 3 kali aplikasi insektisida. AK kumbang daun ditentukan sebesar 0,01 ekor/8 tanaman atau 1 ekor/800 tanaman. Ketentuan AK ini setara dengan sekali aplikasi insektisida (32).
Penulis merasa bahwa AK kumbang daun tersebut nilainya terlalu rendah, sehingga sulit diterima untuk dijadikan pedoman dalam mengaplikasikan insektisida karena akan meningkatkan ketergantungan terhadap insektisida. Oleh karena itu, penulis mencoba merekayasa penenfuan AK kumbang daun berdasarkan prinsip titik impas (break-even poin) pengendalian hama, yakni kesetaraan nilai antara biaya pengendalian dan nilai kehilangan hasil panen yang diselamatkan oleh tindakan pengendalian (26).
Telah diketahui bahwa aplikasi insektisida sebanyak tiga kali setara dengan kehilangan hasil panen sebanyak 175 kgha. Dengan demikian, sekali aplikasi insektisida setara dengan 58,3 kg/ha atau 1 ,867 g/8 tanaman.
Berdasarkan persamaan regresi hubungan antara populasi kumbang daun dan hasil panen Y = 59,1 92 - 1,499 X, maka nilai 1,499 X = 1,867 g/8 tanaman, sehingga nilai X= 1,25 ekor/8 tanaman. Nilai X adalah nilai AK. Jadi, AK kumbang daun sebesar 1,25 ekor/8 tanaman.
Nilai AK beragam menurut situasi pasar. Oleh karena itu, untuk mendapatkan nilai AK yang lebih bersifat dinamis, perlu ditentukan model regresi berganda dengan memperhitungkan keragaman biaya pengendalian dan harga kedelai.

2. Penggulung daun dan ulat jengkal

Sampai saat ini belum ada hasil penelitian tentang kehilangan hasil panen akibat serangan penggulung daun maupun ulat jengkal. Oleh karena itu, AK kedua jenis hama pemakan daun tersebut ditentukan berdasarkan data empiris, hasil penelaahan pustaka, atau tingkat kerusakan daun. Adisubroto et al. (cit. 33) menentukan AK berbagai jenis hama kedelai, antara lain penggulung daun dan ulat jengkal secara empiris, masing-masing sebesar 6 ekor/10 tanaman dan 3 ekor/30 tanaman. AK berbagai jenis hama pemakan daun tersebut telah diuji pada tahun 1988 di Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa aplikasi insekisida berdasarkan AK selama semusim dilaksanakan dengan frekuensi sebanyak tiga kali atau 30% dari frekuensi aplikasi insektisida yang berjadual seminggu sekali. Apabila dilihat dari hasii panen, ternyata hasil panen dengan AK (1,87 t/ha) tidak berbeda secara nyata dengan aplikasi berjadual (1,80 t/ha).
Apabila pada suatu pertanaman dijumpai berbagai jenis hama pemakan daun, maka dasar yang digunakan untuk menentukan AK adalah tingkat kerusakan daun. Hasil penelitian pengaruh kerusakan daun buatan dengan pengguntingan daun pada MK 1976 di Bogor menunjukkan bahwa AK kompleks hama pemakan daun pada stadia generatif sebesar 12,5% kerusakan daun. Kehilangan hasil panen akibat kerusakan daun senilai itu setara dengan dua kali aplikasi insektisida (31).

3. Ulat grayak

a. Kehilangan hasil panen

Hasil penelitian kehilangan hasil panen kedelai akibat serangan ulat grayak pada MK 1988 di Pasuruan (belum dipublikasikan) menunjukkan bahwa serangan ulat sebanyak ½ ekor/tanaman tidak memberikan pengaruh terhadap hasil panen (Tabel 2). Hal ini berarti bahwa tanaman kedelai mampu mentoleransi kerusakan daun yang diakibatkan serangan ulat sebanyak ½ ekor/tanaman.



Tingkat kerusakan daun yang diakibatkan oleh serangan ulat sebanyak ½ ekor/tanaman pada stadia V6 – V7 dan R1 – R2 sebesar 33%, pada R3 – R4 sebesar 22%, dan pada R5 – R6 sebesar 20% (Tabel 2). Hal ini berarti bahwa stadia V6 – V7 hingga R5 – R6 mampu mentoleransi kerusakan daun sebesar 20%. Kehilangan hasil panen kedelai akibat serangan ulat grayak dinyatakan dengan model regresi yang bersifat kuadratik (Tabel 3).

b. Ambang kendali

Nilai AK ulat grayak instar III pada berbagai stadia tanaman dinyatakan dengan model persamaan regresi berganda seperti terlihat pada Tabel 4. Penghitungan AK tersebut didasarkan atas prinsip titik impas pengendalian hama menurut metode Stone dan Pedigo (26) yang dimodifikasi oleh penulis, terutama dalam menentukan nilai kehilangan hasil panen akibat serangan hama.
Berdasarkan Tabel 4, tampak bahwa nilai AK berubah dengan berubahnya biaya pengendalian dan harga kedelai. Makin tinggi biaya pengendalian, makin besar pula nilai AK tetapi makin tinggi harga kedelai, makin rendah nilai AK. Apabila biaya pengendalian sebesar Rp 38,500,00 dan harga kedelai sebesar Rp 850,00, maka AK ulat grayak instar III pada stadia V6 – V7, R1 – R2, R3 – R4, dan R5 - 6, berturut-turut sebanyak 9,7; 12,6; 11,2; dan 25,6 ekor/10 tanaman.


TEKNIK PENARIKAN CONTOH POPULASI HAMA DAUN KEDELAI

Teknik penarikan contoh populasi hama ditujukan untuk dua alasan yang berbeda, yakni: (1) menentukan kepadatan populasi hama, apakah ia berada di atas atau di bawah AK; keterangan yang diperoleh digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan saat pengendalian hama dengan insektisida, dan (2) menduga kepadatan populasi hama dalam penelitian dinamika populasi (21).
Untuk menentukan apakah populasi hama telah mencapai AK, dilakukan kegiatan pemantauan populasi secara berkala. Umumnya, kepadatan populasi hama tidak ditentukan dengan menghitung banyaknya individu hama secara keseluruhan, tetapi dengan menduga kepadatan populasi hama berdasarkan teknik penarikan contoh.
Teknik penarikan contoh dipengaruhi oleh pola sebaran populasi hama di lapangan. Oleh karena sebelum dilakukan penarikan contoh, pola sebaran populasi hama harus diketahui terlebih dahulu.
Sampai saat ini, penelitian tentang teknik penarikan contoh populasi hama daun kedelai di Indonesia belum dibakukan. Ditlintan (11) telah membuat pedoman pengamatan populasi hama pada tanaman palawija dan hortikultura dengan dua cara, yakni: (a) pengamatan berkala; pengamatan ditujukan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi hama dan intensitas serangannya. Pengamatan dilakukan pada suatu petak contoh dengan tiga unit contoh yang tersebar di perpotongan giris-garis diagonal, dan pertengahan potongan garis-garis diagonal yang terpanjang (Gambar 5). Tiap unit contoh terdiri atas 10 rumpun contoh, (b) pengamatan khusus; pengamatan ditujukan untuk mengetahui tanaman terserang pada daerah-daerah yang dicurigai. Pengamatan dilakukan pada 5 petak contoh yang tersebar di titik perpotongan garis diagonal, dan pertengahan potongan-potongan garis diagonal tersebut (Gambar 6). Dalam tiap petak contoh, ditentukan 3 unit contoh yang tersebar seperti Gambar 5. Hasil pengamatan dilaporkan sebagai bahan penyuluhan kepada petani tentang keadaan populasi hama dan anjuran pengendaliannya.


1. Pola sebaran ulat grayak

Sebaran populasi hama dibedakan menjadi tiga macam pola, yakni: acak, seragam, dan mengelompok. Pola sebaran acak terjadi apabila tiap unit contoh di pertanaman mempunyai peluang sama untuk ditempati oleh suatu individu. Apabila kehadiran suatu individu pada suatu unit contoh menurunkan peluang untuk ditempati oleh individu lain, maka pola sebarannya seragam, sedangkan apabila meningkatkan peluang ditempati oleh individu lain, maka pola sebarannya mengelompok (21).
Pola sebaran populasi ulat grayak ditentukan berdasarkan pendugaan indeks sebaran 1/k menurut Bliss dan Owen (7). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata populasi ulat instar III lebih kecil daripada ragamnya, dengan nilai 1/k > 0 (Tabel 5). Berdasarkan indeks 1/k tersebut, maka ulat menyebar secara mengelompok. Hal ini berarti bahwa peluang setiap unit tanaman untuk ditempati oleh ulat, tidak sama.


 2. Model penarikan contoh beruntun populasi ulat grayak

Dalam teknik penarikan contoh populasi yang ditujukan untuk menentukan kedudukan populasi hama berdasarkan AK, keterangan tentang kepadatan populasi hama harus dikumpulkan dalam waktu singkat, dengan biaya rendah, dan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Untuk itu, dibutuhkan program penarikan contoh beruntun (sequential sampling).
Program penarikan contoh beruntun membutuhkan tiga macam keterangan, yakni: (a) pola sebaran populasi hama, (b) AK hama, dan (c) tingkat risiko terhadap keputusan pengendalian yang salah (22).
Banyaknya individu populasi hama yang diperoleh, dikategorikan berdasarkan model penarikan contoh beruntun yang berbentuk garis sejajar menjadi tiga macam, yakni: (a) yang harus dikendalikan karena telah melampaui batas kritis (d2) dari garis sejajar, (b) yang tidak perlu dikendalikan karena berada di bawah batas aman (d1) dari garis sejajar, dan (c) yang tidak perlu dikendalikan, tetapi harus dilakukan penarikan contoh ulang karena berada di antara kedua batas keputusan pengendalian dari garis selajar.
Model penarikan contoh beruntun populasi ulat grayak ditentukan berdasarkan metode yang dikemukakan oleh Shepard (22). Model tersebut disajikan pada Gambar 7 dan Tabel 6.



3. Banyaknya unit contoh

Banyaknya unit contoh yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan pengendalian pada berbagai kepadatan populasi ulat instar III ditentukan dengan membuat model rerata banyaknya contoh (average sample number) menurut metode yang dikemukakan oleh Morris (17). Model tersebut disajikan pada Gambar 8. Bagian kurva yang mendaki menunjukkan bahwa keputusan pengendallan hama tidak diinginkan, sedangkan bagian kurva yang menurun menunjukkan bahwa keputusan pengendalian hama diinginkan. Berdasarkan Gambar 8 tersebut, contoh yang dibutuhkan untuk tindakan pengendalian pada tanaman stadia V6 – V7, R1 – R2, R3 – R4, dan R5 – R6, berturut-turut sebanyak 5, 4, 4, dan 4 unit. Penarikan contoh sebanyak itu berlaku pada kepadatan populasi, berturut-turut sebanyak 0,4; 0,5; 0,9; dan 0,9 ekor/rumpun. Semakin besar rerata kepadatan populasi ulat per unit contoh, semakin sedikit unit contoh yang ditarik.


Penarikan contoh populasi ulat grayak dilakukan pada lahan dengan luas maksimum 0,1 ha dan dengan penghitungan populasi secara langsung. Lahan seluas itu dibagi menjadi lima lokasi berdasarkan garis diagonal lahan, yakni empat lokasi di bagian sudut dan satu lokasi di bagian tengah (20).
Penarikan contoh dilakukan secara acak dengan ukuran unit contoh berupa satu rumpun atau dua tanaman, minimum sebanyak 5 unit per lokasi. Pengamatan meliputi banyaknya kelompok telur, ulat instar I, II, dan III. Untuk memudahkan penghitungan, populasi ulat instar I dianggap sama dengan populasi kelompok telur, sedangkan populasi ulat instar II dianggap sama dengan populasi ulat instar III. Satu kelompok telur atau kelompok ulat instar I setara dengan 89 ekor ulat instar III.
Hasil penarikan contoh dicocokkan dengan model penarikan contoh beruntun untuk tiap stadia tanaman. Hasil pencocokan memberikan tiga macam kemungkinan penilaian terhadap kepadatan populasi ulat grayak, yakni:
A. Apabila ditemukan populasi ulat yang berada di bawah batas aman pada model, maka ulat tidak perlu dikendalikan. Penarikan contoh berikutnya dilakukan seminggu kemudian.
B. Apabila ditemukan populasi ulat yang berada di atas batas kritis pada model, maka ulat perlu segera dikendalikan. Penarikan contoh berikutnya dilakukan seminggu setelah aplikasi pengendalian.
C. Apabila ditemukan populasi ulat grayak yang berada di antara kedua batas keputusan pengendalian pada model, maka penarikan contoh harus dilanjutkan pada 3 - 4 hari kemudian. Apabila keputusan pengendalian tidak diperoleh, kegiatan pemantauan berikutnya seperti pada A, tetapi apabila diperoleh keputusan pengendalian, saat aplikasinya seperti pada B.

KOMPONEN PENGENDALIAN HAMA PEMAKAN DAUN KEDELAI

Di dalam konsep PHT, berbagai komponen pengendalian yang saling mendukung dipilih kemudian dipadukan menjadi satu kesatuan program sehingga dapat digunakan dalam mengendalikan hama. Komponen pengendalian yang dapat diterapkan untuk mengatasi hama pemakan daun kedelai, antara lain pengaturan pola tanam, teknik bercocok tanam, pemanfaatan musuh alami, pengendalian fisik/mekanis dan penggunaan insekisida. Komponen ketahanan varietas tanaman hingga kini belum dapat diterapkan meskipun peluangnya ada.

1. Pengaturan pola tanam

Pengaturan pola tanam dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi hama untuk bertahan hidup, tumbuh, dan bereproduksl. Pengendalian hama dengan cara ini biasanya kurang memuaskan karena sifatnya hanya mengurangi populasi hama. Meskipun demikian, cara ini menguntungkan karena menciptakan lingkungan yang relatif stabil dan hasilnya tidak beragam, seperti yang dihasilkan bila menggunakan insektisida saja. Pengaturan pola tanam meliputi pergiliran tanaman, waktu tanam, dan tanam serentak (35).

a. Pergiliran tanaman

Pengaturan pergiliran tanaman dimaksudkan untuk memutuskan rantai pakan hama daun. Untuk maksud tersebut, penanaman kedelai hendaknya digilir dengan tanaman bukan jenis kacang-kacangan atau tanaman inang lainnya.
Pengaturan pergiliran tanaman cocok untuk mengendalikan kumbang daun dan penggulung daun, tetapi kurang cocok untuk ulat jengkal dan ulat grayak. Masalahnya adalah bahwa kedua jenis hama pemakan daun ini memiliki banyak inang pengganti, antara lain beberapa jenis rerumputan sehingga mampu bertahan hidup, meskipun pada tingkat yang relatif rendah.

b. Waktu tanam

Pengaturan waktu tanam dimaksudkan untuk menghindarkan masa kritis tanaman dari serangan hama. Hasil pengamatan populasi ngengat ulat grayak (Gambar 3) menunjukkan bahwa puncak penerbangan populasi ngengat terjadi pada akhir Juli, awal Oktober dan awal Nopember. Hal ini berarti bahwa penanaman kedelai berulang pada MK II memberikan peluang yang lebih besar bagi hama pemakan daun untuk bertahan hidup dan berkembang biak sehingga mengakibatkan luas serangan yang relatii tinggi.
Penanaman kedelai sebaiknya dilakukan sekali setahun, setelah panen padi. Kedelai yang ditanam pada waktu tersebut relatif terlindung dari serangan hama pemakan daun karena selama musim tanam padi, pakan tidak tersedia dengan cukup. Kedelai yang ditanam untuk kedua kalinya, umumnya terserang oleh hama karena selama musim tanam kedelai pertama, pakan tersedia dengan cukup.

c.  Tanam serentak

Pengaturan tanam serentak dimaksudkan agar tidak terjadi tumpang tindih generasi hama. Penanaman kedelai yang terlambat dari sekitarnya memberikan peluang yang lebih besar bagi populasi hama pemakan daun untuk meningkat, terutama apabila pertanaman kedelai sebelumnya telah mendekati masa panen. Oleh karena itu, dengan bertanam serentak, risiko kerugian per satuan luas dapat diperkecil. Tanam serentak sebaiknya dilakukan dengan selisih waktu tanam tidak lebih dari 10 hari, meliputi areal yang luas, sekurang-kurangnya 1 WKPP (1 WKPP = 600 – 1000 ha) (11).

2. Teknik bercocok tanam

Pengaturan teknik bercocok tanam dimaksudkan agar pertumbuhan tanaman dan hasil panen menjadi optimal. Kedelai yang ditanam sesuai dengan anjuran agronomis akan tumbuh subur, ditandai dengan daun yang rimbun, sedangkan yang kurang subur, daunnya jarang. Apabila terjadi serangan hama pemakan daun pada pertanaman yang subur, kerusakan daun yang ditimbulkannya relatif lebih rendah daripada pertanaman yang kurang subur.
Pengaturan teknik bercocok tanam dapat pula digunakan untuk menghambat perkembangan populasi hama, misalnya pengaturan jarak tanam, penggenangan, dan sanitasi. Kedelai yang ditanam secara beralur lebih mudah dalam melaksanakan pengamatan, penyemprotan, dan penyiangan jika dibandingkan dengan yang ditanam tanpa beralur. Kedelai yang digenangi pada stadia tertentu selain mempercepat proses pertumbuhan tanaman dan pengisian serta pemasakan biji, juga dapat digunakan untuk mengendalikan ulat grayak. Pada siang hari, sebagian besar peri kehidupan ulat berada di dekat permukaan tanah karena tidak tahan terhadap sengatan sinar surya. Apabila lahan digenangi, ulat merayap ke bagian atas tanaman sehingga pertumbuhannya terganggu dan memudahkan dalam melaksanakan pengendalian mekanis dengan penjumputan. Sanitasi lingkungan untuk memberantas gulma dapat dipadukan dengan penjumputan ulat dan kepompong yang berdiam diri di permukaan tanah.

3. Pemanfaatan musuh alami

Ada tiga cara untuk memanfaatkan musuh alami, yakni (a) melestarikan dan meningkatkan musuh alami yang telah ada dengan memanipulasi lingkungan sehingga menguntungkan kemampuan bertahan hidupnya, (b) mengimpor dan melepaskan musuh alami untuk mengendalikan hama pendatang maupun penetap, dan (c) membiakkan secara masal dan melepaskan musuh alami (25).
Menurul Sosromarsono {24), usaha memanfaatkan musuh alami pada pertanaman kedelai dapat dilakukan, antara lain dengan membiakkan secara masal musuh alami yang efektif kemudian melepaskannya secara periodik dalam jumlah besar (inundasi) di lapangan. Di samping itu, karena berbagai predator dan parasitoid stadium dewasa membutuhkan pakan tambahan berupa nektar, tepung sari, dan embun madu, maka tanaman yang memproduksi bahan tersebut sebaiknya ditanam di sekitar pertanaman kedelai.
Informasi mengenai musuh alami hama kumbang daun dan penggulung daun belum dilaporkan. Musuh alami ulat jengkal terdiri atas beberapa jenis parasit, yakni Copidosomopsis (Hymenoptera, Encytidae) dan Apenteles (Hymenoptera, Bramnidae).
Hasil survei pada MK 1989 di Mojosari, Jawa Timur menunjukkan bahwa ulat grayak memiliki berbagai jenis musuh alami, tetapi yang penting dan banyak dijumpai di lapangan, terdiri atas 8 jenis predator, 3 jenis parasitoid, dan 2 jenis patogen. Kedelapan jenis predator adalah kumbang Paederus fuscipes Curt. (Coleoptera, Staphyilinidae), laba-laba Lycosa pseudoannulata Boes et Str. (Araneae, Lycosidae), Oxyopes javanus Thorell (Araneae, Oxyopidae) dan Phidippus sp. (Araneae, Salticidae), semut api Solenopsis geminata Fabr. (Hymenoptera, Formicidae), Euborellia stali Dohrn (Dermaptera, Carcinophoridae), kinjeng Agriocnemis sp. (Odonata, Coenagrionidae), dan capung Crocothemis sp. (Odonata, Libellulidae) (5).
Jenis parasitoid ulat grayak adalah lebah Snellenius manilae Ashmed (Hymenoptera, Braconidae) yang muncul dari ulat, dan lalat Megoselia scalaris Loew (Diptera, Phoridae) dan Peribaea orbata Wied (Diptera, Tachinidae) yang muncul dari kepompong (5,36), sedangkan jenis patogen ulat grayak adalah Borrelinavirus litura dan Bacillus thuringiensis Berlinen.
Kemampuan memangsa ulat instar I - III di antara kedelapan predator tersebut beragam; terbesar diperoleh pada E. Stali dan P. fuscipes masing-masing sebanyak 22 dan 14 ekor/hari, sedangkan kemampuan memparasitasi S. manilae terhadap ulat instar I - III sekitar 41% (5).
Berdasarkan dominansi jenis musuh alami dan daya predasi dan parasitasi di atas, maka musuh alami ulat grayak yang penting adalah predator E. stali dan P. fuscipes, serta parasit S. manilae. Jenis-jenis musuh alami tersebut patut diperhitungkan sebagai salah satu komponen pengendaiian ulat grayak.
Penelitian tentang pemanfaatan patogen NPV (nuclear polyhedrosis virus) untuk mengendalikan ulat grayak telah dilakukan pada tahun 1987 di Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NPV dengan konsentrasi sebesar 2,3 X 107 PIBs/ml dengan volume semprot sebanyak 500 l/ha terbukti mempan untuk mengendalikan ulat grayak instar I - III. Saat aplikasi NPV yang cocok adalah sore hari, mengingat perilaku ulat yang aktif di malam hari, dan sifat NPV yang rentan terhadap sengatan sinar surya (2). Kenyataan tersebut membuka peluang baru bagi terciptanya pengendalian hayati ulat grayak dengan NPV, terutama untuk daerah-daerah yang ulat grayaknya tahan terhadap insektisida.

4. Pengendalian fisik dan mekanis

Pengendalian fisik dan mekanls merupakan cara yang langsung atau tidak langsung mematikan serangga, mengganggu fisiologi serangga dengan cara yang berbeda dengan insektisida, atau merubah lingkungan menjadi tidak menguntungkan bagi serangga hama. Cara ini kurang populer karena informasi tentang bioekologi serangga tidak cukup tersedia. Oleh karena itu, peranannya di dalam PHT relatif kecil dan harus dipadukan dengan cara lain. Cara fisik dan mekanis dianjurkan untuk mengendalikan hama pemakan daun pada stadium yang relatif tahan terhadap insektisida dan pada populasi yang belum memencar dengan cara memungut dan memusnahkannya.

5. Penggunaan varietas tahan hama

Pengendalian hama dengan cara ini merupakan cara yang mudah dan murah bagi petani, serta aman bagi lingkungan. Akan tetapi, sampai saat ini cara tersebut belum dapat diterapkan untuk mengendalikan hama pemakan daun karena belum diperoleh keterangan tentang varietas tahan.
Hasi penelitian pada tahun 1989/90 di Bogor menunjukkan bahwa varietas/galur Soden, Himeshirazu, Lokon, No. 29, Akidatsu, S/887-46, S/887-96, S/887-39, dan S/887-51 berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan kepridian ulat grayak. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa sifat biologis ulat grayak, seperti yang tampak pada Tabel 7.
Hasil penelitian pada tahun 1986 di Taiwan menunjukkan bahwa ada 4 varietas introduksi dari Amerika Serikat memiliki sifat tahan dengan tingkat antibiosis yang berbeda terhadap berbagai jenis hama pemakan daun, yakni PI 171444, PI 171451, PI 227687, dan PI 229358, Di antara keempat varietas tersebut, yang memiliki sifat antibiosis yang stabil dan kuat terhadap ulat grayak adalah PI 171444 (27).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, maka varietas/galur yang telah teruji tahan, dapat dijadikan sumber ketahanan terhadap hama pemakan daun. Hal ini berarti terbuka peluang bagi penciptaan varietas tahan terhadap berbagai jenis hama pemakan daun, terutama ulat grayak di Indonesia.


 6. Penggunaan insektisida

Pengendalian hama daun kedelai sampai saat ini masih tertumpu pada insektisida. Cara ini dipilih karena mudah dilaksanakan, ampuh, dan hasilnya cepat diketahui. Di samping menguntungkan, penggunaan insektisida sering menimbulkan dampak merugikan, baik secara ekonomis maupun ekologis, apabila diaplikasikan secara tidak bijaksana.
Di dalam konsep PHT, penggunaan insektisida merupakan salah satu cara yang terakhir dipilih, dan apabila hama tidak dapat dikendalikan dengan cara lain. Tujuannya adalah untuk menurunkan populasi hama di bawah AK. Aplikasi insektisida haruslah tepat jenis, tepat sasaran, tepat dosis, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat cara, serta dilaksanakan bilamana diperlukan. Di samping itu, aplikasi insektisida memperhatikan stadia/instar yang rentan terhadap insektisida, dan tingkat ketahanannya di lapangan.
Aplikasi insektisida yang tidak sesuai dengan anjuran dapat menimbulkan dampak yang merugikan. Kenyataan menunjukkan bahwa aplikasi insektisida dengan dosis sublethal dapat menimbulkan risurjensi hama pemakan daun. Hal ini dibuktikan dari hasil pengujian pada tahun 1979-1981 di Bogor yang menunjukkan bahwa piridapention, karbaril dan pentoat mempertinggi keperidian dan banyaknya telur yang menetas (14).
Hasil penelitian tentang kerentanan ulat grayak terhadap berbagai jenis insektisida yang dikoleksi pada tahun 1987 dari daerah Bogor Garut dan Lampung menunjukkan bahwa koloni Garut lebih tahan terhadap diazinon dan karbaril jika dibandingkan dengan koloni Lampung (Sutrisno dalam 13). Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa di antara koloni ulat grayak terjadi perbedaan tingkat ketahanan terhadap insektisida. Fakor penyebab terjadinya perbedaan tersebut belum diketahui secara pasti, diduga karena aplikasi insektisida sejenis yang terus-menerus di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka perlu ditentukan cara pengelolaan insektisida pada pertanaman kedelai.
lnsektisida-insekisida yang dapat digunakan dalam mengendalikan hama daun kedelai cukup banyak, baik dari golongan organofosfat, karbamat, maupun sintetik peritroid. Insektisida tersebut dan target sasarannya disajikan pada Tabel 8.


 
PAKET TEKNOLOGI PHT PEMAKAN DAUN KEDELAI

Sampai saat ini praktek pengendalian hama kedelai yang umum dilakukan oleh petani masih bertumpu pada insekisida yang diaplikasikan tanpa didasarkan atas kepadatan populasi hama. Hal ini disebabkan oleh beberapa masalah, antara lain (a) belum tersedianya paket teknologi PHT yang menjamin keberhasilan usaha tani dan (b) masih adanya persepsi petani yang salah mengenai PHT karena kurang lancarnya arus informasi.
Paket teknologi PHT merupakan penggabungan secara serasi berbagai komponen pengendalian hama yang cocok berdasarkan informasi mengenai: keempat elemen PHT, yakni bioekologi, pengendalian alamiah, ambang pengendalian, dan teknlk penarikan contoh populasi hama. Paket teknologi bersifat dinamis dalam pengertian selalu berkembang dari waktu ke waktu menurut informasi yang mendasarinya. Oleh karena itu, meskipun informasi yang dibutuhkan belum lengkap dan akurat, namun bukan merupakan penghalang dalam penyusunan paket teknologi PHT.
Informasi yang dibutuhkan dalam menyusun paket teknologi PHT diperoleh dari hasil penelitian, penelaahan pustaka, data empiris, serta penataran teoritik. Di samping itu, efisiensi dan efektivitas pengendalian, serta optimasi hasil juga merupakan dasar pertimbangan dengan memperhatikan kendala sosial ekonomi petani (33).
Paket teknologi PHT pemakan daun kedelai diusulkan sebagai berikut:
1.  Penanaman kedelai secara serentak dengan selisih waktu yang relatif pendek (kurang dari 10 hari), sekurang-kurangnya seluas 1 WKPP (600 - 1000 ha).
2.  Penanaman kedelai sekali setahun dan digilir dengan tanaman selain kacang-kacangan dan tanaman inang hama lainnya.
3.  Penerapan cara bercocok tanam yang baik disertai dengan pengaturan jarak tanam, penggenangan di siang hari pada stadia tertentu, dan penyiangan yang disertai dengan penjumputan ulat atau kepompong.
4.  Pemantauan populasi dilakukan secara berkala seminggu sekali pada 3 - 9 minggu setelah tanam. Khusus untuk ulat grayak, keputusan pengendalian didasarkan atas model penarikan contoh beruntun pada lahan berukuran maksimum 1000 m2 dengan unit contoh berupa 1 rumpun tanaman, sekurang-kurangnya sebanyak 5 unit contoh yang ditentukan secara acak berdasarkan diagonal lahan.
5.  Pengendalian dengan insektisida untuk kompleks hama daun, penggulung daun, atau ulat jengkal berdasarkan tingkat kerusakan daun 12,5%. Pengendalian kumbang daun dan ulat grayak berdasarkan AK; untuk kumbang daun sebanyak 1,2 ekor/tanaman, untuk ulat grayak sebanyak 10, 13, 11, dan 26 ekor ulat instar III per 10 tanaman, berturut-turut pada stadia vegetatif, pembungaan, pembentukan polong, dan pengisian polong.
6.  Penggunaan insektisida berdasarkan lima tepat, yakni tepat jenis, tepat dosis, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat cara, serta menghindari fanatisme terhadap satu jenis insektisida.

PUSTAKA

1. Andow, D.A. and K. Kiritani. 1983. The economic injury level and the control threshold. Japan Pesticide Information. 43: 3-9.
2. Arifin, M. 1988. Pengaruh konsentrasi dan volume nuclear palyhedrosis virus terhadap kematian ulat grayak kedelai (Spodoptera litura F.). Penelitian Pertanian. 8(1): 12-14.
3. Arifin, M. 1989. Daya makan dan perkembangan ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman kedeiai. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Balittan Bogor, 17-18 Desember 1986. 2 (Palawija): 181-188.
4. Arifin, M. 1991a. Laju pertumbuhan intrinsik ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada tanaman kedelai. Lokakarya Hasii Penelitian Komoditas dan Studi Khusus, Badan Litbang Pertanian, Deptan dan Ditjendikti, Depdikbud di Cisarua Bogor, 13-15 Mei 1991. 16 p.
5. Arifin, M. 1991b. Peranan musuh alami ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada berbagai kondisi lingkungan pertanaman kedelai. Pros. Sem. Biol. Das ll di Bogor, 14 Pebr. 1990. pp. 207-214.
6. Balittan Bogor. 1985. Laporan tahunan Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor 1983-1984. Balittan Bogor. 154 p.
7. Biss, C.I. and A.R.G. Owen. 1958. Negative binomal distributron with a common k. Biometrika. 45: 37-58.
8. Budihardjo S. and A. Naito. 1991. Varietal resistance of soybean to leaf feeder. Proceeding of final seminar of strengthening of pioneering research for palawija crops produdion: ATA-378. AARD-CRIFC-BORIF-JlCA. p. 45-50.
9. Ditlintan. 1987. Pestisida untuk pertanian dan kehutanan. Ditlintan, Jakarta. 206 p.
10. Ditlintan. 1989a. Organisme pengganggu tanaman kedelai dan strategi pengendaliannya. Lokakarya pengamatan dan Peramalan Oganisme Pengganggu Tingkat Nasional. Ditlintan-ATA 162. Jatisari, Juli-Sept, 1989. 49 p.
11. Ditlintan. 1989b. Pedoman pengamatan dan pelaporan perlindungan tanaman pangan. Ditlintan, Jakarta. 45 p.
12. Djuwarso, T., B. Soegiarto, dan J. Soejitno. 1988. Bioekologi hama kedelai pada stadium vegetatif . Simposium Penelitian Tanaman Pangan II. Ciloto, 21-23 Maret 1988. 32 p.
13. Endo, S., Sutrisno, I M. Samudra, A. Nugraha, J. Soejitno, and T. Okada. 1988. Insecticide susceptibility of Spodoptera litura F. collected from three locations in lndonesia. Seminar at BORIF, 24 June 1988. 18 p.
14. Harnoto. 1981. Pengaruh beberapa formulasi insektisida terhadap biologi Plusia chalcites Esper. Thesis FPS-IPB. 61 p.
15. Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of plant crops in Indonesia. Revised by P.A. van der Laan. Ichtiar Baru – van Hoeve, Jakada. 701 p.
16. Levins, R. 1986. Prospectives in integrated pest management from an industrial to an ecological model of pest management, pp. 1-18. ln M. Kogan (Ed.). Ecological theory and integrated pest management practice. John Wiley & Sons, New York.
17. Morris, R.F. 1954. A Sequential sampling technique for spruce budworm egg surveys. Can. J. Zool. 33: 302-313.
18. Noch, L.P., A. Rahayu, A. Wahyu, and O. Mochida. 1983. Bionomi ulat grayak Spodoptera litura (Fabricius) (Lep., Noctuidae) sebagai salah satu hama kacang-kacangan. Kongres Entomologi II, Jakarta, 24-26 Januari 1983. 12 p.
19. Okada, T., W. Tengkano, and T. Djuwarso. 1988. An outiine on soybean pests in Indonesia in faunistic aspects. Seminar Dec. 6, 1988. BORIF, Bogor. 37 p.
20. Pieters, E.P and W.L. Sterling. 1974. A sequential sampling plan for the cotton fleahopper, Pseudatomascelis seriatus. Environ. Entomol. 3: 102-106.
21. Ruesink, W.G. 1980, lntroduction to sampling theory, pp. 61-78. In M. Kogan and D.C. Herzog (Eds.). Sampling methods in soybean entomology. Springer-Verlag, New York.
22. Shepard, B. M. 1980. Sequential sampling plans for soybean arthropods, pp. 79-93. ln M. Kogan and D.C. Herzog (Eds.). Sampling Methods in Soybean Entomology. Springer-Verlag, New york.
23. Soehardjan, M. dan W. Tengkano. 1983. Pengendalian hama kedelai. Kongres Entomologi II di Jakarta, 24-26 Januari 1983. 17 p.
24. Sosromarsono, S. 1985. Prospek pengendalian serangga hama palawija di lndonesia. Prosiding Simposium Hama Palawija. PEI Cabang Bandung dan Balittan Sukamandi, 34 Des, 1985. 8 p.
25. Stehr, F.W. 1982. Parasitoids and predators in pest management, pp. 135-173. ln R.L. Metcalf and W.H. Luckmann (Eds.). lntroduction to Insect Management. John Wiley and Sons, New York.
26. Stone, J.D. and L.P. Pedigo. 1972. Development and economic injury level of the green cloverworm on soybean in Iowa. J. Econ. Entomol. 65: 197-201.
27. Suharsono. 1986. Kajian antibiosis pada tanaman kedelai terhadap Spodoptera litura dan Orgyia sp. Penelitian Palawija. 1(2): 58-63.
28. Surjana, T. dan O. Mochida. 1983. Distribusi populasi Spodoptera litura (Fabricius) di Pulau Jawa. Kongres Entomologi II. Jakarta, 24-26 Januari 1983. 6 p.
29. Tengkano, W. 1988. Hama perusak polong tanaman kedelai dan pengendaliannya. Laporan Rapat Komisi Perlindungan Tanaman, Departemen Pertanian. Bogor, 25-26 Oktober 1988. Buku II: Makalah. Sekretariat Komisi Perlindungan Tanaman, Jakarta. pp. 1-15.
30. Tengkano, W., G.V. Vreden, and M. lman. 1974. Crop Project Res. Rep. pp. 146-149.
31. Tengkano, W. and T. Sutarno. 1982. Influence of leaf attact at generative stage on yield of Orba soybean variety. Penelitian Pertanian. 2: 51-3.
32. Tengkano, W., T. Sutarno, dan H. Kurniawan. 1980. Hubungan antara populasi Phaedonia inclusa Stal. Dengan kerusakan tanaman kedelai varietas Orba (belum dipublikasikan).
33. Untung, K. 1988. Pengembangan paket pengendalian hama terpadu pada tanaman kedelai. Laporan Rapat Komisi Perlindungan Tanaman, Departemen Pertanian. Bogor, 25-26 Okober 1988. Buku II: Makalah. Sekretariat Komisi Perlindungan Tanaman, Jakarta. pp. 1-15.
34. Untung, K. dan L. Setyobudi. 1982. Gatra ekonomi pengendalian hama terpadu pada tanaman hortikultura. Simposium Entomologi. Bandung, 25-27 Agust. 1982. 24 p.
35. Watson, T.F., L. Moore, and G.W. Ware. 1976, Practical insed pest management: a self instruction manual. W.H. Freeman and Company, San Francisco. 196 p.
36. Yamamoto, I. dan S. Sosromarsono. 1985. Ecological impact of pest management in lndonesia. Tokyo University of Agriculture. 84 p.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar